Wednesday, February 15, 2012

Polusi Mengurangi Pemanasan Global

sumber google

         Para ilmuan memperhitungkan bahwa efek fisik dari berlipatgandanya jumlah karbon dioksida di atmosfer pada abad 21, dibandingkan dengan era pra-industri, dapat meningkatkan suhu global sebesar 1 ÂșC. Tetapi, mereka memperkirakan bahwa kenaikan suhu sebenarnya akan beberapa kali lebih besar karena  adanya efek  “umpan balik” yang dipicu oleh pemanasan global yang akan mempercepat pemanasan. Umpan balik positif meningkatkan suhu, sebaliknya umpan balik negatif mendinginkan.
Uap air
       Umpan balik positif yang pertama melibatkan uap air. Bumi yang lebih panas akan mempunyai lebih banyak uap air di udara, karena panas akan menguapkan lebih banyak uap air, terutama dari lautan. Uap air merupakan gas rumah kaca dan umpan balik positif ini akan menyebabkan pemanasan dua kali lebih besar dari karbon dioksida sendiri. Tetapi, banyak komplikasi terjadi. Sebagian uap air akan berubah menjadi awan, dan pengaruh dari awan tidak menentu. Awan dapat mendinginkan permukaan bumi, sehingga membantu mempertahankan udara tetap hangat, terutama pada malam hari. Efek dominan yang terjadi tergantung pada beberapa faktor, misalnya jenis dan ketinggian awan.
Salju dan Es
       Umpan balik yang lebih besar disebabkan oleh salju dan es yang saat ini menutupi permukaan Arktik dan Antartika. Salju dan es memantulkan kembali ke angkasa 80% radiasi matahari yang mengenai permukaan bumi sehingga membantu mempertahankan suhu dingin di sekitarnya, serta di seluruh permukaan bumi. Tetapi, jika es meleleh, permukaan bumi yang terkena cahaya matahari akan menjadi lebih gelap, terutama air laut. Air laut menyerap 80% radiasi matahari, sehingga pencairan es akan ( dan sedang) berperan sebagai umpan balik positif pada pemanasan, baik secara global atau pun lokal.
Lautan
       Lautan cenderung memprlambat pemanasan dengan menyerap panas dari permukaan dan memindahkannya ke kedalaman. Proses ini dibatasi oleh kecepatan perpindahan air laut antar kedalaman (pencampuran vertikal), dan para ahli kelautan memperkirakan bahwa pemanasan global akan mengurangi jumlah pencampuran air laut itu. Jadi, sementara lautan saat ini memperlambat pemanasan global, efek menguntungkan ini dapat makin berkurang di masa depan
Polusi
        Debu, asap, jelaga dan partikel sulfat yang menyebabkan terjadinya hujan asam ternyata mengurangi pemanasan global dengan memantulkan radiasi ke luar angkasa. Efek pendinginan dari partikel-partikel sangat sulit untuk diketahui. Hal ini dikarenakan beberapa partikel tersebut juga menyerap radiasi matahari dan meradiasi balik seperti yang dilakukan permukaan bumi. Dugaan saat ini adalah bahwa partikel polusi, yang disebut aerosol, meniadakan hampir seperempat dari pengaruh pemanasan gas rumah kaca di seluruh dunia. Pada daerah yang sangat terpolusi, aerosol dapat meredam semua efek pemanasan dalam jangka pendek. Tetapi sebagian besar aerosol di atmosfer hanya bertahan beberapa hari saja, sedangkan karbon dioksida dapat bertahan selama beberapa puluh tahun di atmosfer.


Dikutip dari:
Pemanasan Global, penerbit Erlangga,
Penerjemah: Dr.Wibowo Mangunwardoyo, Msc
Halaman: 20-22
Judul asli:Global Warming
Penulis: Freed Pearce




0 komentar

click to leave a comment!