Rupiah Untuk Anakku


Untuk Anakku Tersayang....

Anakku... saat dirimu sudah mampu mencari Dollar di negeri orang, ingatlah bahwa Rupiah adalah mata uangmu dan itu adalah Indonesia...kampung halamanmu.

Ayah ingin menceritakan kisahmu. Saat masih dalam rahim, saat lahir, saat lincahnya dimasa batita, mulai memasuki usia sekolah, lalu tak terasa menjadi seorang anak yang periang dan beranjak remaja.... Sungguh waktu cepat berlalu...

Tetapi sebelumnya...

Ayah akan bercerita tentang pernikahan dengan Ibumu...

Jauh sebelum Ayah mengenal Ibu, Ayah sudah mempersiapkan dana walimahan. Ayah ikut arisan dalam angkatan kampus Ayah. Setelah beberapa tahun bekerja, Ayah mencicil Rupiah demi Rupiah setiap bulan untuk membeli emas. Mempersiapkan mahar untuk Ibumu...

Bayangkan, saat persiapan itu Ayah lakukan, Ibumu entah berada dimana. Ayah belum kenal.

Ayah mengenal Ibumu dari rekan kerja. Saat dikenalkan Ayah sudah merasa siap. Siap secara mental, fisik dan finansial. Tidak ada proses pacaran, kami berjumpa beberapa kali, lalu memutuskan menikah...

Ayah masih ingat senyum Ibumu terlalu manis pada perjumpaan pertama, apalagi dengan malu-malu ia mengangguk ketika menyetujui lamaran Ayah.

Untuk mempersiapkanmu di dunia, Ayah dan Ibu berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dan....

Alhamdulillah, dengan segala mukijizat dari Allah, dirimu yang tiada menjadi ada.

Kami sangat bahagia. Mempersiapkan dirimu sebaik-sebaiknya.

Saat Ibu memperlihatkan test pack itu... air mata ini mengalir tak terbendung...

Ayah semakin giat bekerja, mengumpulkan Rupiah demi Rupiah untuk dirimu hingga masa lahirmu kelak.

Sebisa mungkin Ayah memenuhi segala kebutuhan untuk ibu hamil, mulai dari nutrisi, tempat persalinan hingga senam hamil.

Saat masih  kandungan, kita sudah mengobrol...Apa kau ingat obrolan kita waktu itu ?

Hemm, tentu saja tidak. Ayah bilang, ini adalah rumah kita, ini adalah tanah kita. Tempat lahir dan mati kita.

Ayah memilih rumah sakit pemerintah untuk kelahiranmu. Memilih dengan pelayanan terbaik dan yang mampu menghemat Rupiah ayah melalui BPJS yang ditanggung oleh Pemerintah.

Pemerintah sangat baik kepada kita nak...

Saat hari lahirmu tiba, kami semua menangis bahagia.

Anakku adalah penerus keluarga, agama, bangsa dan negara. Begitu Ayah membanggakanmu.

Ayah membelanjakan beberapa Rupiah untuk akikahmu.

Ibu sering membawamu rutin ke posyandu untuk memperoleh vaksin yang disediakan oleh Pemerintah. Gratis...

Pemerintah sangat baik kepada kita nak...

Ayah menyimpan Rupiah setiap bulannya untuk biaya pendidikanmu dimasa depan...

Waktu terlalu cepat berlalu, bahkan 12 tahun pendidikanmu yang engkau gelutipun tak terasa...

SD...SMP...dan SMA...

Ayah bangga denganmu... yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan dan melanjutkan sekolah di luar negeri dengan beasiswa Pemerintah.

Lagi-lagi pemerintah baik kepada kita nak...

Pemerintah membiayaimu agar kelak menjadi orang yang berguna kepada bangsa.. kepada Indonesia...

Setelah berhasil...pulanglah...lalu mengabdi untuk negeri...

Anakku sayang, Ayah ingin dirimu menjadi salah satu Habibie dari negeri ini. Masih ingatkah ketika Ayah bercerita tentang beliau? Begitu jauh Habibie merantau dari pertiwi tetapi ia tetap ingin kembali untuk mengabdi. Ia begitu cinta dengan negeri ini.

Ketika beliau sakit keras, beliau menuliskan sumpahnya dalam bentuk puisi.

"Sumpahku. Terletang! Jatuh! Perih! Kesal!‎ Ibu Pertiwi engkau pegangan dalam perjalanan. Janji pusaka dan sakti, tanah tumpah daraku makmur dan suci. Hancur badan tetap berjalan. Jiwa besar dan suci, membawa aku padamu."

Saat dirimu bercerita, "Ayah...disini enak...mencari Dolar mudah. Saya ingin bekerja disini".

Hancur rasanya...sedihhh...harusnya dirimu bisa memberikan yang lebih untuk pertiwi.

Karena kelak, dirimu akan menjadi bagian negara ini juga, yang akan membantu pembiayaan Indonesia. Menjadi pemerintah dan berbuat baik seperti Pemerintah yang telah lakukan terhadap kita.

Anakku, dari awal Ayah menulis surat ini, tidak ada satu katapun yang menyebutkan uang atau duit. Tapi Ayah menyebutnya Rupiah.

Semata-mata untuk mengingatkan kata Dollar yang selalu kau sebut. Membandingkan dengan nilai Rupiah yang kecil...

Ingatlah Nak, Negeri ini yang membesarkanmu...Negeri yang mencetak Rupiah yang dulu sering kau gunakan untuk beli jajan... Rupiah yang Ayah kumpulkan untuk menikahi Ibumu...Rupiah yang Ayah belanjakan untuk kelahiran dan akikahmu... Rupiah yang Ayah sisihkan untuk pendidikanmu...

Ketahuilah, seberapa jauhpun engkau dari Indonesia saat ini, tetaplah ingat Indonesia sebagai negaramu. Merah Putih adalah benderamu. Rupiah adalah mata uangmu. Tetap ingat Indonesia, tetaplah pulang... tetaplah kembali...mengabdi untuk negeri...


Salam sayang

Ayah,

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Natasha Skin Care Untuk Pria

Cara Menyembuhkan Kerumutan

Cara Mudah Memindahkan Kontak Dari Xiaomi Redmi 2S